Sebuah tantangan sekaligus taruhan harga diri sebagai tuan rumah Muktamar 1 Abad ,merinding mendengarnya…, Muhammadiyah, .. gemetar menyebutnya.

Muhammadiyah dikenal memiliki 2 kekuatan amal usaha, yakni Pendidikan dan Kesehatan. Bukan kebetulan dan juga bukan tidak disengaja (haha.. sama saja) bahwa UMY adalah universitas pertama yang memiliki fakultas kedokteran sejak didirikan pada 1981 (tepat di tahun kelahiran saya..) jadi saya lahir bersama lahrirnya UMY. Namun apakah diusia saya 29 tahun ini mampu memberikan kontribusi pada Muktamar yang sudah 100 tahun dan UMY diusia 19 tahun praktis jaraknya 10 tahun saya belajar menjadi dokter dan setelah selesai diberi kepercayaan menyelenggarakan layanan kesehatan yang prima bagi para tamu-tamu istimewa (semua tamu istimewa, katanya tidak boleh membeda-bedakan..)

Bersama dr. Suryanto, Sp.PK dituntut untuk membantu secara tulus agar para muktamirin diberikan kesehatan lahir dan batin selama mengikuti muktamar kali ini.

Tantangannya adalah apakah FKIK UMY mampu berbuat nyata dan berhasil memenuhi kebutuhan medis para muktamirin secara professional dan islami. Lalu bagaimanakan kita memperlakukan mereka itu adalah bagaikan memberikan tinta pada kain putih membentuk guratan (abstrak) yang mana maknanya tergantung dari persepsi masing-masing orang yang melihatnya. Bukan hal mudah tapi tidak juga sulit. lebih dari 1000 alumni FKIK UMY dokter dan ners (sebentar lagi dokter gigi). Apakah itu cukup ? belum tentu. Kerelaan dan profesionalisme kadang tidak bisa berjalan seiring. inilah tantangannya.

Disamping itu.. masalah dukungan finansial yang tidak bisa disetarakan dengan jamuan makan malam atau prasmanan ‘snack’ bagi para tamu, ternyata harus mampu kami selesaikan dengan mengerahkan segala daya upaya kami sendiri kecuali kebutuhan dasar.

So mari bersama-sama mempertahankan harga diri kita sekuat mungkin. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah la khaula wala quwwata illaa billaah.

amin.