Seorang dosen layaknya juga seorang guru harus mampu mengawal anak didik untuk berkembang sehingga mempunyai nilai tambah yang istimewa ketika lulus. Ada 2 kata kunci dalam analisis ini, yang pertama adalah nilai tambah (value added) dan yang kedua adalah istimewa (excelent) dalam bahasa akademik. Dua hal inilah yang menarik diulas bagaimana memenuhi hasrat orang tua wali dan mahasiswa yang ingin kelak menjadi orang sukses selepas belajar. Apalagi tugas berat ini diampu oleh dosen yang bukan berasal dari lulusan kependidikan dimana teknik, metode dan nilai-nilai pembelajaran diajarkan, maksud saya lulusan Ilmu Keguruan (dulu IKIP).

Value added bukanlah sekedar tugas memberikan ilmu pengetahuan namun bagaimana secara kolektif bersama mahasiswa menumbuhkan semangat menjadi sarjana yang memiliki keahlian khusus yang berbeda dari lainya. Kalo standar-standar saja sih tidak ada bedanya dengan intitusi lain yang kalo menurut saya hanya sekedar menjadi pencetak yang bahan baku dan cetakannya sudah ditentukan. Nilai tambah hanya bisa diwujudkan melalui soft skills dan penelurusan bakat seseorang.

Yang kedua adalah bagaiamana nilai tambah ini bernilai istimewa? Ini bisa kita nilai bagaimana seorang sarjana ketika dilapangan dapat mengaplikasikan pengetahuannya tanpa membeda-bedakan area sebenarnya. Sehingga seorang sarjana pertanian mampu menghidupkan roda ekonomi masyarakat petani sehingga kesejahteraannya meningkat, seorang dokter dapat berpengaruh kuat terhadap penciptaan keluarga yang sadar akan kesehatan, lingkungan yang sehat dalam masyarakat. Agak idealis memang.. tapi memang itu keinginan para orang tua dan mahasiswa ketika akan menentukan kuliah.

Saya sendiri sampai saat ini masih kurang PeDe didepan mahasiswa walau pernah mengikuti kursus PEKERTI. Nggak tega kalo melihat diri sendiri tidak bisa menjadi Role Model dari nilai-nilai pembelajaran sesungguhnya. Pengajaran X Pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya-upaya kolektif antara dosen dan mahasiswa untuk mencapai tujuan belajar. Inilah tantangannya.