TERAPI CAIRAN DAN TRANFUSI DARAH

Sumber: igunspan, monoardi, joko, FK UMI, dan kuliah Anestesi FKIK UMY

I. PERDARAHAN MASIF

Kehilangan darah secara masif biasanya terjadi jika ditemukan hilangnya volume darah dalam periode 24 jam, jumlah darah normal terdapat sekitar 7% dari berat tubuh ideal pada orang dewasa dan 8-9% pada anak-anak. Definisi alternatif termasuk 50% kehilangan darah dalam 3 jam atau rata-rata kehilangan 150 ml per menit.1

Kehilangan darah adalah penyebab utama terjadinya syok pada pasien trauma. Syok adalah keadaan berkurangnya perfusi organ dan oksigenasi jaringan. Pada pasien syok penyebab yang paling sering disebabkan oleh hipovolemia.

Syok hemoragik disebabkan oleh karena kehilangan akut dari darah atau cairan tubuh. Jumlah darah yang hilang akibat trauma sulit diukur dengan tepat bahkan pada trauma tumpul sering diperkirakan terlalu rendah. Ada hal yang perlu diperhatikan seperti:

a.       Terdapatnya darah dalam jumlah besar pada rongga perut dan pleura.

b.      Perdarahan pada tulang paha (femur shaft) dapat mencapai dua liter.

c.       Perdarahan patah tulang panggul (pelvis) dapat melebihi 2 liter.2

Kehilangan darah biasanya sukar untuk ditentukan, , dan satu hal yang harus diperhatikan bahwa kadar hemoglobin dan hematokrit tidak turun dalam beberapa jam setelah perdarahan akut.1

Kebanyakan kasus perdarahan masif diakibatkan oleh kasus-kasus trauma, diantaranya trauma thoraks, abdomen, dan pelvis serta akibat proses di paru yang mengakibatkan hemoptisis masif seperti TB Paru, bronkiektasis,abses paru atau neoplasma yang secara kasar dapat diduga dari sifat perdarahan.

Akibat dari perdarahan masif didapatkan status pasien dengan keadaan klinis syok seperti hipotensi, takikardi, takipneu, hipotermi, pucat, ekstrimitas dingin, melambatnya pengisisan kapiler, dan penurunan produksi urine.4 Prinsip pengelolaan dasar yang harus dipegang ialah bagaimana menghentikan pendarahan dan megganti kehilangan volume. Tujuan akhir dalam penatalaksanaan perdarahan masif adalah   menormalkan kembali oksigenasi jaringan dengan :

1.      Menjamin airway yang paten dengan secukupnya pertukaran ventilasi dan    oksigenasi.

2.      Menghentikan sumber perdarahan dengan tourniket balut tekan atau penjahitan

3.      Meletakkan penderita dalam posisi syok:

  • kepala setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada dada
  • tubuh horisontal atau dada sedikit lebih rendah
  • kedua tungkai lurus, diangkat 20 derajat

3.  Memperhatikan keadaan umum dan tanda-tanda vital; awasi jalan napas. Bila perlu lakukan resusitasi

4.   Pemberian cairan:

  • cairan diberikan sebanyak mungkin dalam waktu singkat
  • sebelum darah tersedia dapat diberikan cairan:
  1. plasma : plasmanate
  2. plasma ekspander: plasmafusin (maksimal 20ml/kgbb), Dextran 70(maksimum15ml/kgbb)

cairan lain: Ringer laktat, NaCl 0,9%, harus dikombinasi dengan cairan lain karena cepat keluar ke ruang ekstravaskuler

5.    Tranfusi darah5

II. KEHILANGAN CAIRAN SECARA MASIF

Pada kasus kehilangan cairan secara masif, biasanya terjadi pada kasus-  kasus seperti luka bakar dan sekuestrasi.

1.Luka bakar

Pasien luka bakar dikelola dengan urutan prioritas seperti pasien trauma lainnya. Penilaian ini berupa:

Airway, Breathing, (waspada terhisapnya gas panas/ asap dan kerusakan jalan nafas), circulation (penggantian cairan), Disability (compartement syndrome), exposure (persen luas luka bakar)

Penyebab luka bakar perlu diketahui seperti api, air panas, parafin, minyak dsb. Perlu diingat bahwa kerusakan kulit dan otot dapat menyebabkan gagal ginjal.

Pengelolaan  :

–          Hentikan proses kebakaran / pemanasan

–          ABCDE dan tentukan luas luka bakar (rule of nine)

–          Pasanglah jalur infus yang lancar pada vena besar untuk segera memberikan cairan.

Hal-hal khusus pasien luka bakar

Hal-hal berikut adalah petunjuk adanya kemungkinan cedera jalan nafas dan gangguan pernafasan :

–          luka bakar sekeliling mulut

–          suara serak dan batuk

–          adanya edema glottis

–          luka bakar yang dalam dan melingkar leher atau dada.

Intubasi nasotracheal atau endotracheal harus dilakukan terutama bila pasien menunjukkan tanda suara parau yang berat, kesulitan menelan ludah, nafas menjadi cepat setelah pasien mengalami inhalation injury (cedera inhalasi).

Kebutuhan cairan elektrolit minimal 2 – 4 cc/kgBB /% luas luka bakar/24 jam, diperlukan untuk menjaga volume sirkulasi yang adekuat dan produksi urine yang cukup.

Jumlah tersebut diatas diberikan dengan cara :

–          50 % diberikan dalam 8 jam pertama pasca luka bakar

50 % sisanya diberikan dalam 16 jam agar tercapai urine 0,5 – 1,0 ml /kg/jam.2

Kalau luka bakar luasnya 20% pada orang dewasa dan kurang dari 10% pada anak-anak, maka umumnya tidak diperlukan resusitasi cairan.   Resusitasi cairan dan elektrolit dilakukan bila luas luka bakar lebih dari 20% pada orang dewasa atau lebih dari 10% pada anak-anak.

Berbagai formula yang dapat dipakai antara lain :

a. Elektrolit + koloid + dextrose :

Elektrolit Koloid Dextrose 5%
Evans (1952) 1 ml/kgBB/% NaCl 0,9% 1 ml/kgBB/% 2.000 ml
Brooke (1953) 1,5 ml/kgBB/% Ringer Laktat 0,5 ml/kgBB/% 2.000 ml
Mount Vermon 2,5 ml/kgBB/% 2.000 ml

b. Hanya Ringer Laktat :

Cara ini yang paling populer saat ini.

Baxter / Parkland (1974) : 4 ml/kgBB/% luka bakar.

Dengan menggunakan formula di atas, maka luas luka bakar diperhitungkan maksimal 50%.   Caranya : jumlah cairan yang dipergunakan diperhitungkan menurut persentase luas luka bakar.   Separuh dari volume tersebut diberikan dalam 8 jam pertama setelah terjadi kebakaran dan bukan setelah saat permulaan pengobatan.    Separuh diberikan dalam 16 jam berikutnya.

Keuntungan  dari Ringer Laktat ialah : Ringer Laktat adalah larutan garam yang seimbang.   Perbandingan laktat (sebagai bikarbonat) terhadap klorida adalah 27 : 103 dan pHnya 7,4.   Ini mendekati komposisi dari cairan ekstraseluler.   Dengan RL asidosisnya dapat dikurangi.    Dengan NaCl 0,9% (kadar Na+ 145 mEq) maka kadar Na dalam serum akan meninggi dapat menambah beratnya asidosis.   Kadar K+ dalam RL sebesar 4 mEq/L dapat ditolerir oleh tubuh.   Cairan RL gampang diperoleh.

Pemberian koloid dalam 24 jam pertama menurut banyak ahli tidak dapat dibenarkan, sebab zat-zat koloid akan lolos melalui kapiler-kapiler yang rusak tadi.   Sesudah 24 jam, permeabilitas kapiler-kapiler sydah hampir pulih kembali dan pemberian koloid baru dapat dibenarkan untuk dapat mempertahankan tekanan osmotik koloid dengan batas normal.   Pada anak-anak, permeabilitas tadi sudah pulih kembali dalam 18 jam sehingga pemberian koloid diberikan lebih awal.

Pemberian darah dalam 24 jam pertama tidak diperlukan walaupun pada kombutsio terjadi hemolisis, sepanjang kehilangan Hb tidak melebihi 10% dari keseluruhannya, sebab penambahan darah akan meninggikan viskositas darah.

Contoh :

Seorang dengan BB = 50 kg mengalami luka bakar dengan luas luka bakar 50%.

Jumlah cairan yang dibutuhkan = 4 ml x 50 x 50 = 10.000 ml (10 liter/24 jam).  Jadi, 5 liter harus habis dalam 8 jam pertama dan 5 liter dalam 16 jam berikutnya.   Dengan cara ini diperlukan monitoring berupa produksi urin dan tekanan vena sentralis (CVP) untuk mengetahui apakah perfusi tetap terjadi dan tidak overload cairan.

Pada 24 jam kedua

Pada 24 jam kedua, Baxter menganjurkan :

a.      Jika keadaan umum memungkinkan, cairan sedapat mungkin diberikan secara oral pada hari ke 2.

b.     Jika cairan per os belum memungkinkan, maka infus dipertahankan dengan Dextrose 5% sebanyak 2.000 – 5.000 ml/24jam.

Keperluan glukosa ialah :

  • untuk kebutuhan metabolisme
  • mengganti cairan yang hilang melalui sekuestrasi
  • untuk memudahkan ekskresi sodium sehingga kadar serum sodium menjadi normal (138-142 mEq/L)

c.      Pada hari ke 2, koloid sudah dapat diberikan karena permeabilitas membran kapiler sudah pulih kembali.   Koloid diberikan dalam bentuk Dextran atau Plasm.   Pada luka bakar kurang dari 50% diberikan koloid 500 ml, sedangkan pada luka bakar lebih dari 70% diberikan koloid 1.500 ml.   Formula lain dari pemberian koloid ini adalah :

  • pada luka bakar 30-50% adalah 0,3 ml/kgBB/% luka bakar
  • pada luka bakar lebih dari 70% adalah 0,5 ml/kgBB/% luka bakar

Setelah 48 jam :

Setelah 48 jam, apabila kehilangan akut (“acut loss”) sudah diatasi, maka tubuh masih kehilangan plasma melalui luka-luka bakar.   Dan ini harus diganti disamping kebutuhan cairan seharinya.   Untuk memperhitungkan jumlah cairan yang menguap tadi dapat digunakan formula : (25 + % luas luka bakar) x m2 luas permukaan tubuh = perkiraan jumlah cairan yang menguap perjam dalam mililiter.   Contoh : luas luka bakar 50% dengan luas permukaan tubuh 1,7 m2 maka penguapan =  (25 + 50) x 1,7 = 125 ml/jam atau 24 x 125 = 3.000 ml/24 jam.

Monitoring resusitasi :

Monitoring ketat sangat diperlukan pada 24 jam pertama untuk mengetahui apakah resusitasi cairan yang dilakukan cukup atau tidak.   Tekanan darah, nadi, dan utamanya produksi urine (0,5 – 1 ml/kgBB/jam) merupakan parameter yang obyektif 6.

Berikan juga terapi dan tindakan medis berikut :

–          Analgesia

–          Pencegahan tetanus

–          Kateter urine jika luas luka bakar lebih dari 20 %

–          Pipa nasogastrik

Manifestasi klinik cedera inhalasi mungkin belum muncul dalam 24 jam.2

2.Defisist cairan akibat evaporasi atau redistribusi

Hilangnya cairan ini terutama berkaitan dengan ukuran luka dan perluasan daerah operasi. Untuk penggantian cairan ini, tindakan operasi dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat kerusakan jaringan.

Tingkat kerusakan jaringan Kebutuhan cairan tambahan
1. Operasi kecil ( herniorafi) 0-2 ml / kgBB / jam
2. Operasi sedang (kolesistektomi) 2-4ml / kgBB / jam
3. Operasi berat (reseksi usus ) 4-8 ml / kgBB / jam

Harus diingat bahwa untuk keseluruhan operasi selalu diperhitungkan jumlah total cairan : Rumatan, Puasa, dan selama Operasi.3

III. KEBIJAKAN TRANFUSI DARAH

Penyediaan darah donor mungkin sukar, disamping besarnya resiko ketidaksesuaian golongan darah,resiko penularan penyakit seperti Hepatits B dan C serta HIV/AIDS juga ada meski donornya adalah keluarga sendiri. Tranfusi harus dipertimbangkan jika sirkulasi pasien tidak stabil meskipun telah telah mendapat cukup koloid / kristaloid. 5

Tranfusi darah biasanya dilakukan jika volume darah yang hilang ada sekitar 30 – 40 %. Kehilangan volume darah lebih 40 % harus segera ditangani. Hipotermia meningkatkan resiko terjadinya koagulasi intravaskuler diseminata dan komplikasi-komplikasi lainnya, dimana hal ini dapat dicegah dengan penghangatan cairan resusitasi.1

Untuk pasien dengan anemia akut, berdasarkan bukti yang tersedia, transfusi jarang diindikasikan ketika konsentrasi hemoglobin lebih dari 10 g/dl, tetapi hampir selalu diindikasikan ketika kadarnya kurang dai 6 g/dl. Penentuan apakah konsentrasi hemoglobin intermediet menggunakan tranfusi sel darah merah harus didasari pada faktor resiko pasien dengan komplikasi oksigenasi yang tidak adekuat, seperti kehilangan jumlah darah, cadangan kardio respiratori, konsumsi oksigen dan penyakit atherosklerosis. Pengukuran variabel kardiologi seperti heart rate, tekanan arteri, tekanan kapiler pulmonar dan cardiac output dapat memberikan sumbangsih dalam pengambilan keputusan untuk penatalaksanaan transfusi darah, tetapi kemungkinan iskemia dapat terjadi meskipun tanda-tanda vital dalam keadaan stabil1

Indikasi untuk transfusi darah makin dipertanyakan. Transfusi darah biasanya diberikan untuk meningkatkan  kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravaskular. Walaupun demikian, berdasarkan teori, peningkatan volume vaskular seharusnya bukan merupakan suatu indikasi untuk transfusi darah, karena volume intravaskular dapat diperbesar dengan pemberian cairan yang tidak menularkan infeksi (misalnya, kristaloid atau koloid). Sehingga, peningkatan kapasitas pengangkutan oksigen merupakan satu-satunya indikasi nyata untuk transfusi darah. Dari segi praktisnya, bila seorang pasien mengalami perdarahan, darah tepatnya diberikan untuk meningkatkan baik kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravaskular. Secara kritis berapa nilai hematokrit/ hemoglobin yang diperlukan untuk kapasitas pengangkutan O2. Dalam sejarah, hematokrit kurang dari 30% (atau hemoglobin kurang dari 10 g/dl) menunjukkan kebutuhan untuk transfusi darah perioperatif. Bagaimanapun juga ketakutan pada tahun-tahun terakhir akan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh transfusi, khususnya Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), menyebabkan peninjauan ulang terhadap indikasi ini. Jelaslah transpor oksigen dapat  dipertahankan dengan hematokrit hingga  20%. Dengan anggapan volume intravaskular normal dan respon kompensasi kardiovaskular normal (contohnya, takikardi). Baru-baru ini, National Institutes of Health Consensus Conference berpendapat bahwa pasien-pasien sehat dengan hematokrit lebih besar daripada 30% jarang membutuhkan transfusi darah perioperatif sedang pasien-pasien tersebut dengan anemia akut (misalnya, kehilangan darah intraoperatif) dengan hematokrit kurang dari 21% seringkali membutuhkan transfusi darah. Defenisi akhir kadar hematokrit atau hemoglobin yang dibutuhkan untuk melakukan transfusi darah harus berdasarkan pada banyak faktor seperti status kardiovaskular, umur, kehilangan darah yang diantisipasi, oksigenasi arterial, cardiac output, dan volume darah. Yang lebih memperumit permasalahan ini, indikasi untuk transfusi darah mungkin juga tergantung pada sumber darah. Sebagai contoh, indikasi-indikasi untuk darah autolog mungkin lebih liberal karena tidak akan menyebarkan penyakit (misalnya, hepatitis dan AIDS) dibandingkan dengan darah homolog. Bagaimanapun juga, darah autolog sebaiknya tidak dipandang sepenuhnya aman karena adanya kemungkinan kesalahan klinis dan reaksi hemolitik sesudah transfusi.7

Sample darah harus dikirim ke laboratorium secepat mungkin untuk pengelompokan, skrining antibody, dan tes kompatibilitas, untuk menilai hematologi dasar, skrining koagulasi, termasuk estimasi fibrinogen dan investigasi biokimia.1

Ketika dilakukan proses pemeriksaan darah, perlu dilakukan pengawasan secara teratur, kurang lebih setiap empat jam dan  dilakukan intervensi untuk mengawasi kebutuhan dan efektifitas terapi komponennya.1

Sel darah merah

Dalam situasi yang ekstreme dapat digunakan golongan darah O tanpa harus melakukan crossmatch, jika golongan darahnya tidak diketahui. Pada kasus-kasus emergency, wanita premenopouse yang golongan darahnya tidak diketahui, dapat diberikan golongan darah O dengan Rhesus negatif dengan tujuan untuk mencegah reaksi sensitifitas dan resiko penyakit haemolitik pada bayi dalam suatu kehamilan. Pemberian darah O dengan Rhesus positif dapat diterima pada laki-laki atau wanita postmenopouse yang tidak diketahui golongan darahnya.

Perlu diingat bahwa kebanyakan tranfusi menyebabkan kematian akibat pemberian darah yang salah dalam proses tranfusi, untuk itu perlu adanya protokol untuk administrasi darah dan komponen bahkan dalam situasi emergensi.

Platelets :

Konsensus para ahli membantah bahwa platelets tidak dapat diberikan jika terjadi penurunan dibawah level kritis 50 X 109 liter -1 pada pasien dengan pendarahan akut. Jumlah target yang lebih tinggi, pada 100 X 109 liter -1 telah di rekomendasi untuk mereka dengan multiple trauma ganda yang berat dan cedera sistem saraf pusat. Transfusi platelets dapat disarankan ketika fungsi platelets menjadi tidak normal. Seperti ditemukan setelah Bypass kardiopulmoner.

Fresh frozen plasma

Banyak  studi klinik yang telah didasari pada penggunaan whole blood atau plasma yang kurang eritrosit, dimana mengandung beberapa faktor koagulasi residual. Penyebab primer dari koagulopati terjadi akibat defisiensi faktor koagulasi. Jumlah fibrinogen  yang pertama kali menurun dengan level kritis 1 g / L , diperoleh jika terjadi kehilangan darah 150 %, diikuti penurunan faktor koagulasi sampai 25 % dari aktivitasnya, setelah kehilangan darah sekitar 200 %. Pemanjangan dari PT dan APTT sampai 1,5 kali dari nilai normal berhubungan dengan peningkatan resiko koagulopati klinik yang membutuhkan koreksi.1

IV. DIAGNOSA DAN PENGELOLAAN KOAGULOPATI

Koagulopati adalah masalah yang jarang ditemukan pada jam pertama terapi penderita dengan cedera multiple. Tranfusi masif akan menghasilkan dilusi platelet dan faktor-faktor pembekuan. Hipotermia akan menyebabkan gangguan agregasi platelet dan clotting cascade. Kedua hal di atas merupakan penyebab yang sering untuk terjadinya koagulopati pada penderita cedera. Waktu prothrombin, partial thromboplastin time, dan hitung trombosit adalah studi dasar yang berharga untuk diperoleh pada jam pertama, khususnya bila penderita punya riwayat kelainan pembekuan, menggunakan terapi yang merubah koagulasi ( warfarin, aspirin atau unsur anti infeksi non steroid), atau bila tidak terdapat riwayat pendarahan yang dapat diatasi. Tranfusi trombosit, cryopresipitate, dan plasma yang baru dibekukan harus dipandu oleh parameter koagulasi, termasuk fibrinogen. Penggunaan rutin produk-produk tersebut pada umumnya tidak dianjurkan, kecuali bila penderitanya diketahui mempunyai kelainan koagulasi, atau pernah diberikan anti koagulan untuk pengelolaan suatu masalah medis yang spesifik. Bila terdapat bukti pendarahan, atau ada kemungkinan kehilangan darah internal ( misalnya cedera kepala, perut atau cedera thoraks), maka dalam hal ini harus dimulai terapi penggantian faktor spesifik.5

Manifestasi klinik tergantung apakah onsetnya akut atau kronik.

Onset akut (menit ke hari)

–          Penampakan pasien secara umum, biasanya toksik

–          Gambaran klinik biasanya terdapat satu dari tanda-tanda perdarahan dan syok dengan perfusi yang rendah, ekstrimitas dingin, dan nadi yang lemah pada neonatus.

–          Dapat muncul tanda-tanda trombosis dan pendarahan secara bersama-sama.

–          Sebagai tambahan manifestasi kerusakan ginjal, hati, paru dan sistem saraf pusat dapat bersama-sama dengan koagulopati.

Onset kronik ( hari ke minggu )

–          onset kronik dapat terjadi pada anak-anak dengan malformasi vaskuler luas dan pada wanita denga kelainan fetus intra uterine, inflamasi kronik dan bentuk-bentuk tertentu dari kehamilan. Pasien tersebut memilki jumlah trombin konstan yang rendah dan tidak dapat dikompensasi oleh tubuh.

–          Pasien dengan DIC kronik, mungkin saja tidak memiliki manifestasi klinik yang nyata. Pasien dapat memilki echimosis atau pendarahan yang memanjang, dari luka internal atau kutaneus.

Penanganan :

–          Tindakan terapi yang paling penting adalah menyembuhkan penyakit yang mendasarinya.

–          Melakukan pengawasan terapi suportif seperti memperhatikan ventilasi, dan tekanan darah.

–          Pemberian obat-obatan seperti antikoagulan, produk darah(platelets), faktor koagulasi dan penghambat koagulasi.

* Antikoagulan :Heparin 5 – 10 Unit / kg / jam IV

* Platelets : 1 Unit / 10 kgBB

* FFP : 16 ml / kgBB IV

* penghambat koagulasi :Anti Thrombin III 3000-6000 unit / 24

Jam IV

* Faktor koagulasi : recombinan koagulasi faktor

60 – 120 mcg / kgBB IV 8

V. KEMAJUAN DALAM BAHAN-BAHAN PEMBAWA OKSIGEN/PENGGATI DARAH

Manajemen cairan adalah penting dan kekeliruan manajemen dapat berakibat fatal. Untuk mempertahankan keseimbangan cairan maka input cairan harus sama untuk mengganti cairan yang hilang. Cairan itu termasuk air dan elektrolit. Tujuan terapi cairan bukan untuk kesempurnaan keseimbangan cairan, tetapi penyelamatan jiwa dengan menurunkan angka mortalitas.9

Tabel komposisi elektrolit dalam cairan tubuh

Elektrolit Cairan intrasel Cairan ektrasel
Plasma Intersisial

Natrium

10 141 145
Kalium 155 3,7 3,8
Klorida 3 102 115
Bikarbonat 10 28 30
Kalsium < 0,01 1,2 1,2
Magnesium 10 0,8 0,8
Fosfat 105 1,1 1

Masih merupakan suatu kontroversi yang besar, sejak 30 tahun lalu hingga sekarang tentang cairan pengganti yang optimal dalam proses operasi. Ernest Starling telah meletakkan suatu dasar dalam memahami bagaimana pergerakan cairan dalam melewati membran kapiler.

Tabel cairan pengganti dan komposisinya

Menurut velanovich yang melaporkan meta-analisis secara random klinikal trials tentang perbandingan koloid dan kristaloid sebagai cairan resusitasi, dia menyimpulkan bahwa pada pasien dengan peningkatan permeabilitas kapiler, pemberian koloid akan menyebabkan kerusakan, sedangkan pada permeabilitas kapiler yang intak penggunaan koloid memberikan hasil yang efektif. Terdapat suatu konsensus bahwa koloid memiliki waktu paruh yang lebih lama dalam intravaskuler10

Selain hal diatas, kontroversi yang muncul itu disebabkan karena pada penggunaan kristaloid yang berlebih dapat menyebabkan terjadinya edema, sedangkan pada penggunaan koloid dapat menimbulkan efek yang merugikan berupa hemostatik impairment, reaksi anafilaksis dan lainnya.

Menurut Katrin dkk, dalam operasi abdomen menunjukkan bahwa penggunaan resusitasi koloid berhubungan dengan peningkatan tekanan oksigen jaringan pada perioperative, dan hal ini berkebalikan pada penggunaan kristaloid.11

Dari fakta-fakta yang didapatkan dari hasil penilitian 2005 kemudian dianjurkan digunakannya  koloid sebagai cairan resusitasi karena didapatkan penggunaan koloid ini akan memberikan hasil edema yang sedikit, dan perbaikan yang lebih baik pada periode postoperative. Sedangkan dari penilitian lain tahun 2006 oleh Raghavan dkk, tentang ringer laktat dikemukanan bahwa ringer laktat adalah suatu alternatif saline yang menarik karena laktat dimetabolisme dengan baik walaupun dalam kondisi hemodinamik yang buruk. Larutan ringer laktat menunjukkan memilki efek pro inflamasi. Pada syok hemoragik, pemberian larutan ringer laktat menunjukkan hubungannya dengan peningkatan aktivitas neutrofil dibanding dengan binatang yang tidak syok dan binatang yang diterapi dengan saline hipertonik. Alam dkk menunjukkan bahwa infus larutan ringer laktat meningkatkan ekspresi mRNA-E dan P selektion dalam paru dan jaringan visera dengan demikian meningkatkan aktivitas neutrofil.12

Apabila permeabilitas membran adalah normal, cairan yang mengandung koloid seperti albumin, dextran, atau bubuk hidroksietil (hydroxyethyl starch = HES) lebih meningkatkan volume plasma dibandingkan volume cairan interstitial atau volume cairan intraseluler. Setiap gram albumin intravaskuler menampung 14-15cc air dalam volume plasma.  Oleh karena itu, 500cc albumin 5%, yang mengandung albumin 25 gram, akan meningkatkan volume plasma kira-kira 375cc.

Cairan hiperosmotik, contohnya NaCl 7,5%, meningkatkan aliran balik vena terutama oleh perpindahan cairan intraseluler ke dalam volume plasma. Meskipun demikian, infus NaCl hipertonik juga secara sementara meningkatkan ECV melalui penarikan osmotik cairan dari volume cairan interstitial ke dalam volume plasma. Penambahan koloid hiperonkotik ke dalam cairan hipernatremi akan meningkatkan jumlah volume plasma.13

REFERENSI

1.      Stansby D, Maclennan, Hamilton, Manegement of massive blood loss: a template guideline. Available at www.BritishJournalofAnaesthesia.com 2000

2.      http://www.primarytraumacare.org

3.      Mansiper A, Suprohaita, Wardhani IW, setiowulan W, Kapita Selekta Kedokteran Ed.III FKUI Media Ausculapius jakarta 2000.

4.      Purwadianto, Agus dan Sampurna Budi. Kedaruratan Medik. 2000. Jakarta. Binarupa Aksara.

5.      McSwain NE, Paturas JL, Wertz E. Advance Trauma Life Support. St Louis. Mosby. 1997

6.      Tanra, Husni. Dasar-dasar terapi cairan dan elektrolit. 2001. FK UNHAS. Makassar

7.      Miller, Ronald. Hal-hal terbaru dalam tranfusi darah. Availabl at www.google.com.

8.      Kanwar, Vikramjit. Consumtion Koagulopati. Available at www.emedicine.com . 2006

9.      Ashadi, Toni. Terapi cairan intravena: kristaloid dalam syok hipovolemik. Available at www.yahoo.com

10.  Rosenthal, Mayer. Intraoperative fluid Manajemen. Available at www. American Colleges of Chest Physycan.com

11.  Grocott, Michael, Mythen,Michael, Gan, Tong. Perioperative fluid management and clinical outcomes in adult. Available at www. Anesthesia and Analgesia.com 2005

12.  Vincent, JL. Yearbook of Intensive Care and Emergency Medicine: fluid resucitation and immunomodulation in critically III. 2006. Berlin. Springer

13.  Prough, Donald dan Svensen Crister., Konsep terbaru dalam Manajemen cairan perioperatif. Available at www.americanjournal.com