Sebuah humor ala santri

Suatu ketika sesaat setelah pengajian ba’da dzuhur selesai, seorang santri bernama Ngalim sedang berdialog dengan ustadznya karena merasa aneh dengan hasil ujian akhirussanahnya
Ngalim : “Maaf Ustadz, boleh saya minta waktu sedikit?”
Ust. Achmad : “Boleh, ada apa kelihatannya kok serius banget, Lim?”
Ngalim : “Anu… Pak, hmmm… saya mau nanya,  kenapa nilai kaidah fiqh saya kok jelek. Padahal jawaban yang saya tulis persis seperti yang ada dalam kitab?”
Ust. Achmad : “Sebelum saya jawab Lim, saya mau nanya dulu sama sampean. Benar sampean nyonyek?”
Ngalim: “sebetulnya tidak tepat kalo Bapak pakai istilah nyontek. Wong saya tidak sembunyi-sembunyi kok Pak”
Ust. Achmad: “Lho..” ucap ustd. Achmad sambil mengerutkan dahi (pura-pura kaget)
Ngalim : “Ya karena kemarin itu saya kira open book.”
Ust. Achmad : “Nah itulah sebabnya, Lim. Saya juga tidak habis piker kenapa sampean berani buka kitab dengan terang-terangan begitu. Padahal nilai harianmu kan bagus.”
Ngalim : “Begini Ustadz. Sebenarnya saya tidak bermaksud nyontek. Tapi karena dalam lembar soal tidak ada keterangan ujian ini tertutup, maka saya buka kitab. Kan al-ashlu fi al-asyya’i al ibahah hatta yadulla dalilun ‘ala at tahrimi; asal sesuai itu boleh sampai ada petunjuk yang melarangnya?
Ust. Achmad : “Ooooh.. kalau begitu ceritanya, saya minta maaf, Lim. Dalam masalah ini, saya tidak makai kaidah yang sampean sebut tadi. Saya memegangi kaidah sebaliknya, yang dipakai Imam Abu Hanifah, al-ashlu fi al-asyya’I at-tahrimu hatta yadulla dalilun ‘ala al-ibahah; asal sesuatu itu haram sampai ada dalil yang membolehkannya. Dan dari dulu kaidah itu tidak pernah saya tulis.”
Ngalim : “Oooh… kalau begitu, saya permisi, Ustadz”