Hari-hari kurasakan semakin lama parkiran kampus sayap utara (kompleks eksakta) semakin tidak karuan. Entah disengaja atau tidak, mahasiswa terkesan parkir sembarangan tanpa memperdulikan motor yang hendak parkir berikutnya. Tidak hanya mahasiswa, dosen/karyawan yang kepepet (mungkin terburu-buru) juga seakan-akan cuek saja dengan memarkir motornya ditengah jalan karena berebut tempat terdekat dengan gedung. Dilihat dari sisi mengganggu atau tidaknya cara parkir sebagian besar civitas memang tampak biasa saja, karena toh masih bisa lewat meski kadang ujung kaki terserempet knalpot yang masih panas.. atau menyenggol forstep motor lain.. hehe. Namun dilihat dari sisi budaya disiplin, tepo sliro dan keindahan tampaknya sudah tidak begitu penting bagi mereka (ya yang parkir sembarangan itu.. -Red) tampaknya tidak ada lagi yang memperdulikan.

Kadang merasa kasihan juga dengan petugas parkir yang kebanyakan adalah bapak2 paruh baya menata motor yang semrawut (posisi tak sejajar, helm asal nyanthol.., dll). Sehingga dalam benak saya kadang terpikir, apa memang kita sudah tidak berbudaya ? Mari kita lihat sedikit bagaimana perilaku sebagian besar pengguna parkir ini :

  1. Memarkir kendaraan ditengah jalan antar unit (A, B, C, D, E, F, G, H)
  2. Tidak mau menggunakan karcis (padahal jelas-jelas tertera semua kendaraan wajib dipasang karcis)
  3. Menitipkan helm di petugas (padahal jelas-jelas ada tulisan “Bukan Tempat Penitipan Helm”)
  4. Mahasiswa, karwayan hingga dosen berebut diposisi paling ujung (dekat dengan gedung G) dengan alasan males jalan. Hal ini menimbulkan jalan akses menuju gedung G tertutup oleh motor.
  5. Jika memarkir tidak memikirkan jarak antara motor satu dengan lainnya untuk memberi kesempatan kepada motor lain untuk menempati sisa space yang kosong.
  6. Bila melihat helm jatuh atau motor roboh, terkesan “pura-pura” tidak tahu dan bergumam “ah.. kan ada pak parkirnya, mereka kan sudah dibayar”, subhanalloh.
  7. dll

Akan tetapi catatan diatas bukan tanpa alasan. Sempitnya lahan parkir, tidak adanya marka (garis), minimnya petunjuk dan himbauan tertulis juga memicu parkir sembarangan. Namun sebagai insan intelek hendaknya kita semua bisa membangun budaya “parkir yang rapi” dari diri kita sendiri dengan ditunjang dengan fasilitas yang memadai.

Semoga catatan singkat ini bisa menggugah kita semua.

NB: Ntar kalo sempet tak kasih fotonya.